Ilustrasi HIV AIDS. Sumber: defendernetwork.com

“Sudah cukup saya yang terinfeksi virus HIV, yang lain jangan sampai terkena. Cukup saya yang melakukan satu kesalahan, orang lain jangan”

PurbalinggaNews – HIV/AIDS, pasti tidak ada seorang pun yang menginginkan terjangkit penyakit ini, bukan? Tapi, ketika melihat bahkan berdekatan dengan seseorang yang terkena HIV/AIDS, apa yang terbesit dibenak Anda? Dan apabila Anda dinyatakan positif terkena HIV/AIDS apa yang akan Anda lakukan?

Sebut saja El’s, salah satu Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Ia harus berjuang hidup melawan virus HIV/AIDS yang telah menjangkiti tubuhnya sejak 2011 silam. Bukan keinginannya terkena virus mematikan ini, tapi apa daya dia harus menjadi korban ganasnya virus HIV.

Tujuh tahun, El’s harus menjalani berbagai pengobatan agar ia bisa menajlani kehidupan bak orang biasa yang tak terkena virus HIV/AIDS. Namun, apa daya setelah melakukan berbagai pengobatan dan melakukan pengecekan, El’s masih dinyatakan positif terkena HIV/AIDS.

2014 lalu, ia sempat drop karena HIV/AIDS yang menyerangnya sudah memasuki stadium dua. El’s tidak lagi seperti biasanya, pada saat itu ia mengalami diare kronis, pusing dan batuk yang terus menggrerogoti tubuhnya. Namun, ia sungguh beruntung karena tidak ada penyakit yang dideritanya kecuali darahnya yang positif terinveksi HIV/AIDS.

Sebelum ia mengetahui dirinya positif terkena HIV/AIDS, ia pun sempat beranggapan orang yang terkena HIV/AIDS akan menularkan penyakitnya dengan berbagai macam cara. Tapi setelah El’s merasakan secara langsung terkena HIV/AIDS, ia merasa sangat drop hingga ingin  mengakhiri hidupnya.

“Sebelum saya kena HIV/AIDS, saya pernah berpikiran orang HIV tempat duduknya aja menular, anggapan saya seperti itu dulu. Tapi setelah saya merasakan makanya saya down banget, akhirnya sampai mau bunuh diri,” kata El’s.

Hanya saja, ia termotivasi untuk tetap hidup karena putra semata wayangnya. Ketika, ia tak ada dengan siapakah nanti anaknya akan terus melanjutkan hidup. Karena putra nya itu telah ditinggalkan oleh sang ayah sejak usianya tiga tahun. Dan beruntungnya, putranya negatif terkena HIV/AIDS.

“Darah saya sudah gak bisa didonorkan ke orang lain, anak saya itu harus maju, sekolah harus tinggi, pikiran saya seperti itu jadi saya bangkit demi anak saya,” ujarnya.

Kini, El’s tidak lagi permasalahkan penyakit yang hinggap ditubuhnya. Dengan apa yang terjadi pada dirinya, justru ia mengingatkan agar tidak ada lagi orang lain yang mengalami hal serupa. Ia pun saat ini aktif di organisasi kemasyarakatan yang menangani ODHA. Ketika dirinya dimintai untuk menjadi pembicara, ia pun selalu siap membagikan pengalamannya kepada orang lain.

Di saat ODHA yang lain merasa takut untuk bergabung bersama masyarakat luas. El’s mencoba terus berbaur dengan masyarakat. Terus menghimbau dan mengingatkan masyarakt untuk tidak terkena hal yang sama dengan El’s.

El’s yang kini tengah menggeluti dunia usaha tidak pernah berhenti untuk tetap memberikan motivasi ada para ODHA dan lainnya. Walaupun sebenarnya selama satu bulan ia sempat tidak ingin menemui dunianya sehari-hari. Namun, mirisnya ia melihat rekan-rekan ODHA yang putus asa bahkan hingga meninggal, ia pun tergugah untuk kembali giat di berbagai kegiatan. Hingga tidak ada lagi diskriminasi terhadap para ODHA.

ODHA, bukanlah orang yang harus dijauhi. Ia selalu berpesan kepada masyarakat untuk tidak menstigma dan berpandangan buruk terhadap ODHA. Karena hal ini bukan keinginannya, bisa saja yang terkena HIV/AIDS hanyalah korban ganasnya virus HIV.

“Mungkin dengan penyakit HIV ini merupakan teguran buat kita semua supaya kita jadi manusia lebih baik,” tutur El’s.

Ia sendiri harus berusaha ekstra menghilangkan stigma negatif tentang ODHA di masyarakat. Ia bersama organisasinya tengah gencar mensosialisasikan HIV/AIDS  kepada masyarakat mulai dari pelajar di sekolah, kecamatan dan desa-desa.

Ia pun berpesan kepada masyarakt agar tidak mendiskriminasi orang-orang yang terinveksi HIV/AIDS. Karena belum tentu para korban itu pelaku penyebaran HIV/AIDS. Jangan ada pandangan buruk terhadap ODHA, karena HIV penularannya tidak sembarangan, hanya melalui Air Susu Ibu (ASI), jarum suntik, dan hubungan seksual.

“Kalau tidak ganti-ganti pasangan ya tidak bakalan terkena, yang penting tidak melakukan hubungan seksual. HIV juga tidak menular lewat renang bareng, toilet bareng, minum bareng, makan bareng terus tukeran baju, pakai handuk dan sabun bareng. Terus lewat serangga tidak menular seperti nyamuk, itu kan menghisap bukan menggigit dan HIV hanya hidup di darah manusia tidak hidup di darah binatang,” jelas El’s.

Walaupun dirinya terkena ODHA, tapi ia tak pernah putus asa dan terus berjuang demi kehidupannya. El’s sendiri ingin bermanfaat bagi orang lain dan tidak ingin orang lain mengalami hal yang serupa dengannya. Banyaknya korban yang terkena HIV/AIDS, bahkan tidak sedikit yang meninggal akibat virus tersebut membuat hatinya tergerak mengajak orang-orang untuk menjauhi penyakitnya bukan orangnya.

“Sudah cukup saya yang terinfeksi virus HIV, yang lain jangan sampai terkena. Cukup saya yang melakukan satu kesalahan, orang lain jangan,” ungkap wanita yang hobi bernyanyi musik dangdut itu.

Kini, dengan tekad yang keras ia terus berusaha agar ODHA tidak lagi didiskriminasi oleh masyarakat. Ia juga menunjukan ODHA juga mampu berkarya, bekerja dan membuka usaha. El’s sendiri kini telah membuka usaha kios kecil-kecilan di rumahnya. Dia ingin bangkit dari masa lalunya yang kelam dan tidak lagi terjatuh di kesalahan yang sama. (PI-7)

Facebook Comments
Like

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here