Brownies Telaha

Siapa yang tidak kenal brownies? Bagi penggemar cake, kue lezat ini sering menjadi primadona dalam pilihan snack atau kudapan untuk berbagai acara dan suasana. Brownies sering dijadikan sebagai buah tangan untuk keluarga tercinta.

Kalau dulu brownies terkenal dengan satu varian yakni brownies coklat, kini kita dapat menjumpai banyak variasi baik brownies panggang maupun kukus. Bahkan berbagai modifikasi dan varian rasa pun dibuat demi menciptakan brownies yang dapat dinikmati semua. Selain rasa, bentuk brownies pun banyak variasinya.

Resepnya pun cukup mudah untuk dibuat sendiri asal takaran semua bahannya pas. Lalu, apa saja resep utama pembuatan brownies? Bahan-bahan pembuatan brownies cukup mudah ditemukan dan didapatkan berupa tepung, mentega, gula, telur, dan coklat yang telah dilelehkan. Ini menjadi resep dasar brownies yang tidak pernah berubah sejak ratusan tahun lalu. Saat ini, sudah beragam varian rasa dan tambahan yang diciptakan tidak hanya coklat melainkan keju, pisang, blueberry dan aneka tambahan yang lain.

Bagaimana dengan proses pembuatannya? Kini brownies tidak hanya dipanggang melainkan sudah ada brownies kukus dan bakar. Pemasaran brownies pun sudah tersebar dimana-mana jadi tidak perlu khawatir tidak dapat menikmati sensasi brownies yang lezat. Tinggal memilih yang sesuai selera dan yang dapat membuat lidah bergoyang.

Sekumpulan pemuda yang berasal dari Purbalingga menemukan cara lain menikmati brownies. Mereka berinisiatif mengganti tepung terigu yang menjadi resep dasar brownies dengan tepung mocaf.

Ide ini muncul dari salah seorang pemuda yang bernama Muji Budiono (23) atau yang akrab disapa Muji. Muji berhasil menyelesaikan kuliahnya di Institut Pertanian Bogor (IPB) jurusan Teknologi Pangan. Berbekal ilmu yang pernah didapatkan semasa kuliah, ia akhirnya berdiskusi dengan rekan-rekannya Rilis Arsyita (24), Dias Pusparini (24), Nur Hikmah (25) dan Dede Setiadi (23) untuk mencoba membuat brownies dari tepung mocaf (tepung singkong yang telah melalui proses fermentasi).

Muji mengatakan sempat gagal dalam dalam membuat brownies dengan tepung mocaf. Setelah beberapa kali melakukan uji coba akhirnya mereka menemukan tekstur dan rasa yang pas. Aroma singkong yang berasal dari tepung mocaf pun tidak begitu terasa.

Setelah melewati diskusi panjang bersama rekan-rekannya. Akhirnya ia mencetuskan untuk memproduksi brownies yang menggunakan tepung mocaf. Tepung mocaf yang digunakan untuk membuat brownies pun mereka buat sendiri. Mereka mendapatkan bahan baku pembuatan mocaf dari petani singkong yang ada di Desa Selakambang, Kecamatan Kaligondang.

Setelah itu, mereka membagi dua produksi yakni produksi tepung mocaf dan brownies. Tepung mocaf dibuat langsung oleh Hikmah dan Dede, sedangkan untuk brownies dibuat oleh Muji, Rilis dan Dias di Rumah Produksi yang berlokasi di Desa Jatisaba. Setelah brownies siap saji, mereka memberi nama Telaha Brownies Purbalingga.

Muji menjelaskan nama Telaha diberikan karena tepung yang digunakan untuk membuat brownies berasal dari tepung mocaf yang berasal dari singkong. “Kalau orang jawa suka bilang tela-tela, dari situ awal muncul nama Telaha,” jelas Muji.

Muji pun menerangkan alasan menggunakan mocaf sebagai bahan dasar pembuatan brownies dikarenakan tepung mocaf baik untuk penderita yang menghindari gluten seperti anak autis. “Jadi brownies ini aman dikonsumsi untuk siapapun,” ujarnya.

Waktu pembuatan Telaha Brownies pun sama seperti brownies pada umumnya sekitar 30 menit per adonannya. Mereka membuat Telaha Brownies sesuai dengan pesanan. Mereka masih menggunakan media sosial untuk memasarkan produknya. “Karena masih baru, ya kami coba promosi via medsos. Tapi kami juga sudah coba berjualan langsung di Stadion Goentoer Darjono setiap minggu pagi,” ungkapnya.

Harga yang ditawarkan untuk mendapatkan Telaha Brownies juga cukup terjangkau dan tidak menguras kantong. Untuk brownies dengan versi mini dibandrol dengan harga 7,5k – 12,5k, sedangkan untuk yang super 33k-36k. Varian toping yang ditawarkan pun beraneka ragam ada original, coklat, keju, green tea, banana, green tea + kitkat, nutela dan almond. Kebanyakan pembeli lebih menyukai brownies dengan toping keju dan green tea.

Pembeli dapat memesan via whatsapp di 087873755686 atau line id :cls1537j. Pembeli juga dapat membeli secara langsung di Stadion Goentoer Darjono, Minggu pagi.

Untuk pemesanan, lanjutnya pembeli dapat memesan H-1 dan biasanya Muji dan rekannya menghabiskan 3-4 loyang adonan atau 15 cup kecil per harinya. Telaha Brownies ini tahan 3-4 hari dalam suhu ruangan. “Kalau masuk kulkas bisa tahan 10 hari,” terang Muji.

Dengan produksi yang sudah berjalan sekitar satu bulan tidak menutup kemungkinan ada kendala yang dihadapi. Kendala tersebut seperti harga singkong yang fluktuatif, pembuatan tepung mocaf yang membutuhkan waktu 3-5 hari dan ruang penyimpanan yang belum tersedia. “Kalau ada brownies lebih kami simpan di kulkas rumah masing-masing,” imbunya.

Alat yang digunakan untuk membuat adonan, mereka dapatkan dari hasil pinjaman kepada orang tua mereka. Muji mengaku, ia dan rekan-rekannya menghabiskan 2 juta untuk modal awal pembuatan Telaha Brownies.

Ia berharap kedepan Telaha Brownies dapat dijadikan sebagai buah tangan khas Purbalingga. Telaha Brownies, lanjutnya juga dapat terdaftar di UMKM Purbalingga. Terakhir, dengan adanya Telaha Brownies yang terbuat dari tepung mocaf, dapat membantu petani singkong di Purbalingga untuk memproduksi tepung mocaf. (PI-7)

 

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here