Kepala SMPN 3 Purbalingga,Subarno, S.Pd (berpeci) dan pembina Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) “Famous” SMPN 3 Purbalingga,Khusnul Ikhsan, S.Pd mengapit Renata Fadilla Cahyani. Atas prestasinya sebagai jujara 2 Lomba Menulis Esai (LME) tingkat nasional,Renata berhak mendapatkan medali perak dan uang pembinaan Rp 4 juta.

 

PurbalinggaNews –Renata Fadilla Cahyani (15), siswi Klas 9F SMPN 3 Purbalingga berhasil meraih medali perak atau juara kedua pada Lomba Menulis Esai (LME) tingkat nasional. Babak final lomba yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan SMP-Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini, di Jakarta, selama lima hari (27-31/10/2018).

Renata, demikian panggilan akrabnya menulis esai berjudul “Kesenian Ebeg (Kuda Lumping) sebagai Alat Pemersatu Masyarakat di Desa Kembaran Wetan Purbalingga”. Ada 534 naskah esai darin seluruh Indonesia yang masuk ke panitia,dan setelah dilakukan seleksi, hanya diambil 34 yang menjadi finalis, salah satu diantaranya karya Renata.

Pada babak final itu,Renata mempresentasikan esai yang ditulisnya, dihadapan tiga dewan juri,terdiri   Prof Dr Hafid Abas(dosen Pasca Sarjana Universitas Negeri Jakarta),dan  Dra. Dad Murniah, M.Hum (penulis esai di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbud RI), dan Gina Faradila Syafitri,jurnalis  Kompas TV.

“Ketika awal tampil presentasi,saya sempat grogi.Namun lama kelamaan percaya diri,sehingga lancar sampai akhir,”  ujar Renata ketika ditemui di SMPN 3 Purbalingga, Jumat (2/11/2018).

Renata menceritakan, tertarik memilih topik Ebeg, karena senang menonton seni itu.   “Saya tertarik menulis esai dengan topik ebeg,karena saya senang nonton ebeg. Setelah saya amati,ternyata selain sebagai tontonan,ebeg juga bisa sebagai alat pemersatu masyarakat,”  ujar Renata.

Beberapa waktu lalu,BRenata mengisahkan, di dekat rumahnya, tepatnya di Dukuh Merden,Desa Penaruban,Kecamatan Kaligondang,Purbalingga ada pertunjukkan Ebeg. Ia pun nonton pertunjukkan itu, dari awal sampai akhir. Saat itu, yang ditonton adalah  group Ebeg “Turangga Kembar” dari Desa Kembaran Wetan,Kecamatan Kaligondang.

Di akhir pertunjukkan, ujar Renata, menyempatkan wawancara dengan pelaku kesenian tradisional itu. Yakni Rian Pratiwi dan Tuwarno. “Saya wawancara kedua pelaku seni Ebeg itu sampai detil,” ujar Renata, putra semata wayang pasangan Sri Murwanti dan Wahyono yang tinggal di Desa Penaruban Kecamatan Kaligondang Purbalingga ini.

Belakangan, Renata juga melakukan pengamatan tentang kehidupan para pelaku seni itu di Desa Kembaran Wetan. Ia juga menonton  lagi, saat “Turangga Kembar” main di Desa Kembaran Wetan.

Hasil pengamatan itu, kemudian dilengkapi dengan studi pustaka dan mencari informasi tambahan di internet. Sampai akhirnya, di bawah bimbingan pembina Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) “Famous” SMPN 3 Purbalingga, Khusnul Ikhsan, S.Pd, akhirnya terwujudlah esai berjudul “Kesenian Ebeg (Kuda Lumping) sebagai Alat Pemersatu Masyarakat di Desa Kembaran Wetan Purbalingga”.

Di akhir esainya, Renata menyimpulkan, karakteristik penduduk Desa Kembaran Wetan yang masih  menjunjung  tinggi  kerukunan,  gotong-royong,  dan  budaya  adat terwakili pada  kesenian  Ebeg “Turangga Kembar”.

“Penduduk  Kembaran Wetan merasa  memiliki  kesenian  Ebeg  sebagai  media berkumpul, bersilaturahmi, berkomunikasi, dan menjalin tali persaudaraan,”ujar Renata,yang juga hobby menulis serta aktif sebagai pemain futsal di sekolahnya ini.

Ikatan batin yang  kuat, lanjut Renata,   dirasakan  oleh  sesama  seniman  Ebeg  dalam  kelompoknya.  Mereka  sudah seperti  keluarga sendiri, sehingga  mereka  hidup  rukun,  bersatu,  dan  teguh  dalam mempertahankan keberadaan seni Ebeg.

“Suasana suka maupun duka pernah mereka jalani dalam nguri-uri seni  Ebeg. Meskipun secara ekonomi,hidup  mereka  masih  jauh  dari  ukuran  layak, namun kompak.  Nilai-nilai  kebersamaan  dan kegotong-royongan  yang terbangun pada kelompok kesenian  Ebeg di Desa Kembaran Wetan inilah, seyogyanya bisa menjadi contoh masyarakat di mana-saja di Indonesia, di tengah rasa persatuan yang kini mulai terkoyak,”  pungkas Renata.

Kepala SMP Negeri 3 Purbalingga, Subarno, S.Pd yang didampingi pembina KIR “Famous” SMPN 3 Purbalingga,Khusnul Ikhsan,S.Pd merasa bangga atas capaian siswinya,Renata hingga ke tingkat nasional.

“Ini kerja keras Renata bersama pembinanya, dan juga dukungan seluruh keluarga besar SMPN 3 Purbalingga.Ke depan, kami akan terus genjot prestasi akademik maupun non akademik,agar SMPN 3 Purbalingga semakin dikenal luas dan memberikan manfaat bagi masyarakat,”  ujar Subarno.(PI-2)

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here