Peribahasa Sadumuk Bathuk Sanyari Bumi biasanya dinyatakan dalam hal harga diri yang berhubungan dengan perempuan dan tanah pusaka atau tanah yang harus diperjuangkan. Ungkapan Sadumuk Bathuk Sanyari Bumi Ditohi Pati adalah perkara yang menyangkut perempuan dan tanah yang jika diganggu akan dibela atau diperjuangkan sekalipun nyawa taruhannya. Mari kita urai ungkapan itu.

Pertama, tentang perempuan. Bagi laki-laki Jawa, perempuan adalah lambang harga diri dan sosok yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupannya. Dalam masyarakat Jawa, seorang istri disebut sebagai garwa, dimaknai sebagai sigaraning nyawa, yang artinya separoh dari nyawa yakni nyawa sang suami. Sebagai sigaraning nyawa, tentu separoh nyawa yang lain yakni suami akan merasa tersinggung, dilecehkan, diremehkan, atau direndahkan martabatnya apabila ada orang lain (laki-laki lain) yang berbuat tidak semestinya, yakni meraba atau memegang istrinya dengan maksud berbuat tidak baik.  Terlebih lagi, bathuk (dahi) adalah bagian dari kepala yang dipandang sebagai bagian tubuh yang terhormat bagi orang Jawa. Dengan demikian, jika ada orang lain berani meraba bathuk istrinya, jelas sebagai suatu penghinaan yang sulit diterima.

Kedua, tentang tanah. Dalam pandangan Jawa, tanah adalah harta pusaka yang melambangkan harga diri, terlebih jika tanah itu adalah tanah warisan. Harta pusaka harus tetap dipertahankan, jangan sampai diganggu, dikuasai, atau dilepas kepemilikannya. Harta warisan yang berupa tanah, misalnya, sering disebut tanah wutah getih (tanah tumpah darah), yakni tempat ia dilahirkan. Oleh karenanya tanah warisan itu harus dijaga, jangan sampai diganggu atau dikuasai oleh orang lain. Pengertian tanah ini harus dipahami secara luas, yakni dapat diartikan sebagai tanah milik pribadi, tanah (tumpah darah) warisan orang tua atau para pendahulu, wilayah kampung, wilayah desa, hingga wilayah bangsa dan negara. Dengan demikian, jika tanah (milik pribadi, kampung, desa, negara atau bangsa) akan dikuasai orang lain, walaupun hanya sanyari (satu kilan) ibaratnya, maka tindakan itu tetap tidak akan direlakan dan akan diperjuangkan hingga darah penghabisan.

Ungkapan sanyari bumi terkait dengan semangat kebanggaaan atas tanah yang dimiliki. Seperti halnya perempuan, tanah adalah simbol harga diri yang harus dijaga dan diperjuangkan agar tidak diganggu oleh orang lain, sekalipun hanya sejengkal. Dalam konteks nasionalisme/ patriotisme, ungkapan sanyari bumi ditohi pati terkait dengan usaha-usaha membela dan menjaga harga diri dalam rangka bela negara menjaga keutuhan wilayah serta kedaulatan bangsa dan negara.

Dalam konteks Jiwa, Semangat dan Nilai-nilai Kejuangan 45, Bangsa Indonesia telah mewujudkan peribahasa tersebut ketika menghadapi penjajah yang bermaksud memecah belah bangsa ini. Semua rakyat, dari berbagai kalangan, bersatu dan berjuang menjaga keutuhan wilayah, menjaga tanah tumpah darah, yakni Indonesia tercinta. Dalam kondisi sekarang munculnya gerakan separatis di berbagai tempat yang intinya bermaksud mengganggu keutuhan bangsa dan negara harus dihadapai dengan semangat Sadumuk Bathuk Sanyari Bumi Ditohi Pati. Terlebih lagi, disinyalir adanya ancaman dari pihak asing yang akan menguasai Indonesia. Ancaman itu pun harus dihadapi dengan semangat menjaga keutuhan wilayah sebagai kedaulatan bangsa dan lambang harga diri seluruh rakyat Indonesia. Oleh : Drs. H.Soekarno Prasodjo, Anggota Dewan Pertimbangan DHC 45 Kabupaten Purbalingga

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here