Mulyono (paling kanan) pemilik usaha batik ciprat saat berfoto bersama Bupati

PurbalinggaNews- Ada satu lagi teknik batik dari yang lazim kita ketahui selama ini selain cap dan tulis yaitu teknik ciprat. Seperti yang dikembangkan oleh Mulyono, Warga Dusun Karangklesem Desa Karangtalun Kecamatan Bobotsari, batik hasil karyanya mampu menembus pasar yang luar biasa dengan harga yang begitu mahal namun diminati oleh banyak konsumen.

Ditemui Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi (Tiwi) dalam rangkaian acara Gebrak (Gerakan Bersama Rakyat) gotong royong, Kamis (22/8/2019) di kediamannya, Mulyono mengaku batik hasil karyanya banyak memadukan teknik dalam kesenian khususnya seni rupa. Namun, yang paling unik adalah pengerjaan batik dengan cara menyipratkan tinta malam ke kain putih hingga membentuk motif dan pola yang indah.

“Ini caranya diciprat-cipratkan ke kain putihnya. Jadi kuasnya dicelupkan ke malam (tinta), lalu dikebas-kebaskan dengan tidak begitu keras. Nanti motif bisa kita arahkan sesuai dengan yang kita inginkan,” kata Mulyono.

Dari kerajinan batik ciprat khas Karangtalun tersebut, Mulyono bisa mempekerjakan sekitar puluhan wanita sehingga kualitas ekonomi wanita-wanita tersebut bisa ikut menopang kesejahteraan keluarga. Tidak berlebihan, harga yang dipatok oleh Mulyono berkisar di angka Rp 250 ribu hingga Rp 250 juta tergantung dengan lama dan tingkat kesulitan batik yang dikerjakan.

“Harganya mulai dari Rp 250 ribu hingga Rp 250 juta tergantung dari lama pengerjaan dan kesulitannya,” ujarnya.

Batik motif wayang dan relief candi Borobudur adalah andalan Mulyono. Dibantu anaknya, batik motif relief candi Borobudur dibanderol dengan harga Rp 20 juta. Batik-batik hasil karya Mulyono dipasarkan di Pekalongan namun sudah dikenal pula di berbagai daerah. Saat disinggung apakah motif batik dan idenya akan dipatenkan, dirinya tak ingin melakukan hal tersebut. Dia mengaku sebagai seniman yang ikhlas berkarya dan mempersilahkan pengrajin lainnya untuk menggunakan teknik dan motif serupa.

“Saya hanyalah seniman yang ikhlas jadi tidak akan mematenkannya. Silahkan untuk pengrajin lain jika ingin mengerjakan batik dengan teknik dan ide semacam ini,” tutur Mulyono.

Bupati Tiwi yang meninjau pengerjaan batik tersebut siap untuk mempromosikan produk batik milik Mulyono. Lewat acara-acara kenegaraan baik di Purbalingga maupun di tempat lain yang berskala nasional, Tiwi akan memperkenalkan batik milik Mulyono kepada para pejabat maupun kolega. Menurut Tiwi, hal itu penting guna mengembangkan kemajuan UMKM Purbalingga termasuk batik milik Mulyono.

“Untuk pak Mulyono, nanti kita pasarkan di acara-acara kenegaraan resmi sehingga batiknya bisa cepat dan terus dikenal,” pungkasnya. (KP-4).

Facebook Comments
Like