Salah satu Petugas menunjukan hasil uji sampel yang positif mengandung Rhodamin B

PurbalinggaNews – Lagi dan lagi Dinas Kesehatan (Dinkes) Purbalingga menemukan makanan yang mengandung pewarna tekstil Rhodamin B. Kali ini temuan makanan yang positif mengandung Rhodamin B ditemukan di Pasar Bobotsari.

Bahkan dari 10 sampel makanan yang diuji kandungan pewarna tekstilnya, semuanya positif mengandung Rhodamin B. Bulan Ramadan dan menjelang Idul Fitri 1440 H ternyata menjadi salah satu faktor munculnya makanan yang mengandung Rhodamin B apalagi makanan yang beredar seperti cenil atau candil yang laku dan banyak dicari masyarakat sebagai menu pelengkap berbuka puasa.

Bubur mutiara buatan Sokaraja yang biasa menjadi campuran takjil untuk berbuka puasa rupanya positif mengandung Rhodamin B. Kemudian cenil bulat dari Bobotsari yang diambil dari beberapa pedagang berbeda pun juga positif mengandung Rhodamin B.

Masih ada lagi angleng dari Bobotsari dan candil berbentuk kotak dari Belik Pemalang yang biasa digunakan untuk membuat takjil juga mengandung pewarna tekstil. Penjual aneka bahan pembuat takjil pun tidak hanya satu orang melainkan tersebar luas di Pasar Bobotsari.

“Ini luar biasa di Pasar Bobotsari ini, hari ini kita hanya mengambil 10 sampel yang diduga mengandung pewarna, ternyata dari 10  sampel semuanya positif mengandung Rhodamin B,”kata Kasi Kefarmasian dan Alat Kesehatan pada Dinkes Purbalingga, Sugeng Santoso saat Pemantauan Makanan dan Minuman di Bulan Ramadan dan menjelang Idul Fitri 1440 H di Pasar Bobotsari, Kamis (16/5).

Penemuan Rhodamin B sendiri tidak hanya ditemui pada candil maupun cenil melainkan juga dijumpai pada aneka kerupuk. Kerupuk yang positif mengandung Rhodamin B yakni Kerupuk ‘Air Mancur’ dari Sokaraja, Kerupuk Soto ‘Dzakiy’ dari Jatilawang, Kerupuk Karag atau Canthir dari Mandiraja dan Kebumen baik yang berbentuk bulat kecil maupun memanjang serta Mireng Lidi baik yang masih mentah maupun yang sudah diolah.

“Hampir semua penjual di sini ini menjual kerupuk-kerupuk yang mengandung Rhodamin B dan semua produknya berasal dari luar Purbalingga,” ujar Sugeng.

Dari hasil uji sampel memang dapat dilihat bahwa kandungan Rhodamin B pada sampel makanan yang diuji kadar Rhodamin yang digunakan sangat tinggi. Hal ini dapat dilihat pada cairan yang berwarna ungu membentuk seperti cincin pada tabung pengujian.

“Sebelum dites kami juga menggunakan lampu UV untuk mengecek dan menunjukan langsung ke penjual agar penjual kerupuk ini tahu kalau kerupuk yang dijualnya mengandung Rhodamin B,” imbuhnya.

Banyaknya temuan makanan yang mengandung Rhodamin B tentu menjadi perhatian bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purbalingga untuk bagaimana mengawasi produk-produk makanan yang berasal dari luar daerah. Langkah yang akan dilakukan oleh Dinkes Purbalingga sendiri akan melakukan koordinasi dengan Pemkab terkait untuk dapat menelusuri pembuatan kerupuk maupun makanan lainnya yang diduga mengandung Rhodamin B.

“Kalau yang produksi Purbalingga nanti bersama tim dan petugas dari puskesmas kita datangi ke lokasi pembuatan untuk diberikan pembinaan dan penyuluhan kepada mereka agar tidak membuat produk yang sama lagi atau mengganti bahan pewarna yang digunakan menggunakan pewarna makanan,” jelas Sugeng.

Ia pun mengatakan telah melakukan pembinaan secara langsung kepada para pedagang tersebut agar tidak menjual lagi produk yang sama. Bahkan penjual diimbau untuk mengembalikan barang dagangan yang positif mengandung Rhodamin B ke pemasok dan tidak menjualnya lagi.

“Kita sudah langsung melakukan pembinaan ke penjualnya agar tidak menjual barang-barang yang tadi atau mengembalikan ke pemasoknya,” pungkasnya. (PI-7)

Facebook Comments
Like