Petugas Dinkes Purbalingga sedang membeli sampel olahan mireng lidi di Pasar Bukateja

PurbalinggaNews – Pada Pengawasan Makanan dan Minuman di Bulan Ramadan dan Menjelang Idul Fitri 1440 H yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Purbalingga pada Rabu (15/5) di Pasar Bukateja ditemukan satu sampel yang positif mengandung Rhodamin B atau pewarna tekstil. Sampel yang positif mengandung Rhodamin B tersebut yakni Mireng Lidi yang telah diolah.

“Kalau di Pasar Bukateja tadi ditemukan satu yang mengandung Rhodamin B yaitu Mireng Remuk yang sudah dibuat bestak,” kata Staf Seksi Kefarmasian dan Alat Kesehatan pada Dinkes Purbalingga, Yuni Dwi Kushartati saat ditemui disela-sela Pemeriksaan Makanan dan Minuman di Pasar Bukateja.

Temuan makanan yang mengandung Rhodamin B tersebut selain diuji pada saat Pengawasan Makanan dan Minuman juga akan diperiksa di Laboratorium Kesehatan Daerah. Hal ini guna memastikan kepastian kandungan Rhodamin B yang terkandung dan untuk menindaklanjuti peredaran Mireng Lidi tersebut.

“Tadi kita memang mengambil dua bungkus untuk sampelnya untuk kita tindaklanjuti dan dilakukan pemeriksaan ulang di lab kalau hasilnya positif biasanya langsung kita tindak lanjuti,” ujar Yuni.

Sampel yang diambil di Pasar Bukateja sendiri sebanyak 12 sampel yang dicurigai mengandung Rhodamin B, Formalin dan Boraks. Dari ketiga jenis pemeriksaan tersebut, hanya satu yang postif mengandung Rhodamin B dan yang lainnya aman untuk dikonsumsi.

“Kita juga langsung melakukan pembinaan ke pedagangnya, terus saya sempat tanya juga asal barangnya cuma pedagangnya tidak memberitahu, nantinya mau disampaikan langsung ke salesnya dan pedagang tersebut tidak menjual lagi,” katanya.

Ia pun mengimbau agar pedagang tersebut tidak menjual lagi apalagi sudah mengetahui bahwa olahan mireng lidi tersebut mengandung Rhodamin B. Penjual tersebut juga bersedia untuk tidak bersedia menjualnya dan apabila terhubung dengan pemasok atau produsennya untuk dtidak memasok produk tersebut di kiosnya.

“Kalau terhubung dengan pemasoknya ditolak saja olahan tersebut minta olahan makanan yang lainnya yang memang aman dikonsumsi untuk masyarakat,” ujar Yuni.

Lain hal, Dinkes Purbalingga tidak mendapati adanya temuan produk yang dicurigai mengandung Rhodamin B, formalin dan boraks di Pasar Kutawis. Pasar Kutawis yang pada tahun-tahun sebelumnya banyak dijumpai makanan yang mengandung bahan tambahan pangan berbahaya namun pada pemeriksaan tahun ini, Dinkes tidak menemukan makanan yang dicurigai mengandung formalin, Rhodamin B maupun boraks.

“Karena pada tahun-tahun sebelumnya ini banyak pedagang yang menjual kerupuk yang menggunakan pewarna tekstil, kemudian makanan-makanan yang lain yang tidak aman tapi sekarang pedagang-pedagang di pasar ini (Pasar Kutawis, Red) sudah mulai sadar untuk menjual makanan yang aman dikonsumsi,” kata Yuni.

Ia berharap kondisi seperti itu, akan terus ditingkatkan oleh pedagang-pedagang pasar untuk tidak menjual produk makanan yang mengandung zat berbahaya. Dengan tingkat kesadaran pedagang yang hanya menjual makanan yang aman untuk dikonsumsi maka pembeli ataupun masyarakat tidak perlu resah untuk makan makanan yang bahannya dibeli dari Pasar Kutawis.

“Harapannya tidak hanya Pasar Kutawis saja tapi pasar-pasar lainnya juga harus sadar betapa pentingnya kesehatan manusia, jangan sampai pedagang pasar menjual makanan yang justru merugikan kesehatan manusia,” pungkasnya. (PI-7)

Facebook Comments
Like

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here