Petugas Dinkes sedang memeriksa tanggal kadaluarsa produk makanan di Toko Hardi

PurbalinggaNews – Dinas Kesehatan (Dinkes) Purbalingga terus gencar melakukan pemeriksaan makanan dan minuman di Bulan Ramadan dan menjelang Idul Fitri 1440 H guna menjaga kualitas dan keamanan pangan yang beredar di masyarakat. Kali ini Dinkes Purbalingga mendapati ratusan produk makanan yang sudah kadaluarsa dan rusak di salah satu distributor berbagai produk makanan di Desa Bukateja tepatnya di Toko Hardi.

Di Toko Hardi inilah banyak ditemukan makanan ringan yang sudah tidak layak untuk dikonsumsi karena kemasannya yang rusak dan sudah kadaluarsa. Padahal Toko Hardi ini dikenal sebagai distributor aneka makanan ringan dan minuman yang cukup besar di Bukateja.

“Pada tahun sebelumnya Toko Hardi ini juga pernah menjadi sasaran Pemeriksaan Makanan dan Minuman dan ditemukan banyak makanan yang rusak dan kadaluarsa, sekarang kami ingin mengecek ulang tapi ternyata hasilnya masih sama bahkan lebih parah dari tahun sebelumnya,” kata Staf Kefarmasian dan Alat Kesehatan pada Dinkes Purbalingga, Misgiyati di Toko Hardi, Rabu (15/5).

Banyaknya produk makanan dan minuman yang rusak di Toko Hardi tersebut karena kurangnya pengawasan pada setiap produk yang ada. Selain itu juga penataan barang yang tidak rapi juga mengakibatkan banyaknya barang yang rusak.

“Ada juga barang yang sudah digerogoti kecoa dan tikus, tentunya ini akan sangat membahayakan kesehatan apabila dikonsumsi oleh manusia,” ujar Misgi.

Kondisi toko juga sangat gelap karena kurangnya penerangan pada setiap sudut ruangan. Belum lagi, produk-produk yang rusak dan kadaluarsa masih tercampur dengan produk-produk yang kemasannya masih bagus.

“Seharusnya produk-produk yang sudah rusak, kadaluarsa semuanya dipisahkan jangan sampai tercampur kalau yang masih bisa dikembalikan ke pemasok lebih baik dikembalikan dan minta ganti yang baru tetapi kalau sudah tidak bisa dikembalikan jangan dipajang, disimpan terpisah atau dimusnahkan sekalian,” katanya.

Kemudian, banyak kecoa yang sudah masuk ke dalam kemasan  dan banyak barang yang berceceran di lantai. Selain itu kondisi toko juga kurang bersih dan tidak adanya ventilasi udara sehingga udara di dalam gudang penyimpanan lembab sehingga hal ini mengakibatkan banyaknya kecoa ataupun tikus yang memakan produk-produk di gudang penyimpanan.

“Kondisinya memang lembab sekali dan pengap dan penataannya tidak rapi, walaupun gudang penyimpanan menyimpan produk-produk makanan dan minuman kalau disusun rapi dan diberi penerangan kan lebih mudah dalam mencari makanan dan mengontrol makanan yang rusak dan kadaluarsa,” ujar Misgi.

Ia pun mengimbau kepada pemilik toko tersebut agar melakukan penataan ulang di gudang penyimpanannya dan melakukan pembenahan seperti penerangan dan kebersihan gudang. Pengawasan barang juga harus dilakukan secara rutin untuk menghindari kerusakan dan kadaluarsa.

“Terus ditambah palet untuk peletakan barangnya agar tidak langsung di lantai supaya tidak cepat rusak dan barang yang rusak atau kadaluarsa agar dimusnahkan atau dikembalikan,” imbuhnya.

Setelah mendapati pemeriksaan di tokonya, Dwiyana pemilik toko tersebut mengatakan akan melakukan pengawasan ulang terhadap barang-barang di tokonya terutama barang yang rusak ataupun yang kadaluarsa. Ia berjanji akan lebih memperhatikan barang-barang di tokonya dengan menjaga kebersihan gudang penyimpanan.

“Lebih mawas diri lha ya biar penataannya sama terutama barang-barang yang rusak dan kadaluarsa itu bisa lebih terpantau,” pungkas Dwiyana.

Secara rinci produk yang sudah kadaluarsa diantaranya Biskuit Roma lima bungkus, permen Kiss 3 bungkus, kopi kapal api ukuran besar dua bungkus, French Fries lima bungkus dan aneka snack yang kadaluarsa. Kemudian produk yang rusak seperti Selai Olai, coklat loli, Marimas, Kopi Kapal Api ukuran kecil, Tim Tam, Kopi Luwak, Snack Tic Tac, Siip, Lays, Qtela, Pop Ice, Lasegar, Jelly, Marshmellow dan masih banyak snack lainnya yang rusak. Adapun snack ukuran besar (bal, Red) yang rusak, tanpa merek, dan tanpa ijin. (PI-7)

Facebook Comments
Like