Pembinaan Usaha Akomodasi Homestay yang diselenggarakan Dinas Kepemudaan Olah Raga dan Pariwisata (Disporapar) Provinsi Jawa Tengah bekerjasama dengan Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata (Dinporapar) Purbalingga di Owabong Cottage, Rabu (20/3).

PurbalinggaNews – Pemasaran melalui internet (digital marketing) menjadi kunci utama dalam menjual homestay. Pelaku desa wisata khususnya pemilik homestay saat ini jarang yang menjual atau mempromosikan lewat jejaring internet. Yang terjadi, justru pemilik homestay di luar desa wisata yang atau bahkan di kota-kota besar menjualnya seperti layaknya menjual hotel.

Hal tersebut terungkap dalam pembinaan usaha akomodasi homestay yang diselenggarakan Dinas Kepemudaan Olah Raga dan Pariwisata (Disporapar) Provinsi Jawa Tengah bekerjasama dengan Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata (Dinporapar) Purbalingga di Owabong Cottage, Rabu (20/3). Pembinaan itu diikuti oleh 35 pemilik homestay dari sejumlah desa wisata di Purbalingga.

Tampil sebagai nara sumber Supriyono (Bank Jateng Cabang Purbalingga) yang mempresentasikan Sumber Modal usaha, Alif Fauzi (Praktisi Homestay dari Desa Wisata Dieng Kulon, Banjarnegara) dengan materi Pengetahuan Dasar usaha Homestay, Abdan Munawir (Lembaga Sertifikasi Usaha/LSU Sertifindo Wisata Utama Semarang) dengan materi Standar usaha Pondok Wisata/Homestay, dan Muhamad Syaikul Islam (CV Dipo Creativindo Semarang) dengan materi Marketing Via Sosial Media.

Syaikul mengatakan, wisatawan yang akan datang ke suatu kota dan membutuhkan penginapan, cenderung membuka internet dan mencarinya seperti di Traveloka, Airy, Toyo dan aplikasi lainnya. Hanya dengan handphone, ketika mencari penginapan semuanya teratasi. “Namun saya melihat, pelaku homestay di Purbalingga belum yang memanfaatkan aplikasi ini untuk menjual homestaynya. Paling tidak, pemilik homestay bisa mendaftarkan promosinya di Google Bisnisku. Dengan cara ini, letak homestay kita dapat dicari dengan mudah,” kata Syaikul yang juga bekerja di Divisi Bisnis Gojek Indonesia.

Sementara itu Abdan Munawir mengatakan, standar usaha produk wisata termasuk homestay terbagi menjadi tiga aspek yakni produk dengan 14 sub unsur yang harus terstandar, pelayanan (8 sub unsur) dan pengelolaan (6 sub unsur). “Untuk menciptakan pelayanan yang baik, selain 28 sub unsur yang harus dipenuhi, juga harus didukung sumberdaya manusia yang profesional dan memahami betul hospitality,” kata Abdan.

Praktisi homestay Alif Fauzi mengatakan, homestay tidak akan bersaing dengan hotel, karena homestay merupakan akomodasi yang mampu memberikan interaksi dengan penduduk setempat. Beda dengan hotel, wisatawan yang menginap di homestay layaknya seperti kerabat sendiri yang datang. Mereka harus disambut dengan ramah tamah dan diajak berinteraksi dengan pemilik rumah. “Misal, pemilik rumah memiliki usaha bertani, wisatawan bisa diajak untuk bertani, selain menikmati destinasi wisata utama yang menjadi tujuan utamanya.

Kepala Bidang Pariwisata pada Dinporapar Purbalingga Ir Prayitno, M.Si yang membuka acara tersebut mengatakan, pelaku homestay di desa wisata harus mengambil peluang dengan datangnya wisatawan. Apalagi, aksesabilitas menuju Purbalingga semakin dipermudah. Setelah jalan tol Trans Jawa yang memiliki exit tol di Pemalang, wisatawan yang datang ke Purbalingga mengalami peningkatan yang cukup besar. Pada tahun 2017 wisatawan hanya 2,53 juta, namun pada tahun 2018 mampu mencapai 3,8 juta. Dari jumlah ini sebanyak 884 ribu disuplai dari wisatawan yang berkunjung ke desa wisata.

“Desa wisata menjadi wisata alternatif wisatawan yang datang ke suatu tempat, termasuk ke Purbalingga. Oleh karenanya, pelaku desa wisata termasuk di dalamnya pengelola homestay, harus siap menyambut wisatawan ini. Jangan sampai peluang yang baik di masa mendatang disia-siakan begitu saja. Apalagi, bandara jenderal Besar Soedirman pada tahun 2020 sudah beroperasi dan ini akan semakin mempermudah akses wisatawan yang datang ke Purbalingga,” kata Prayitno. (*)

Facebook Comments
Like

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here