Oleh: Gunanto E S; Alumni Fakultas Kehutanan IPB dan Magister Ilmu Lingkungan Unsoed

PurbalinggaNews – Sampah di Indonesia secara nasional mencapai 200 ribu ton per hari atau setara dengan 73 juta ton per tahun. Menurut penelitian Sustianable Waste Indonesia (SWI), rata-rata orang Indonesia per hari menghasilkan sampah sebesar 0,8 kilogram.

Jika turunkan pada level Kabupaten Purbalingga, sampah yang dihasilkan kurang lebih 900 ribu jiwa warganya ada 720.000 kilogram per hari atau 720 ton, jumlah yang sangat besar. Wajar jika kemudian ada kendala dalam pengangkutan sampah beberapa hari saja, tumpukan sampah sudah menggunung dimana-mana.

Lalu, dari manakah sampah-sampah itu berasal? Paling dominan berasal dari sampah rumah tangga sebanyak 48 persen, kemudian dari pasar tradisional 24 persen, dan kawasan komersial sebesar 9 persen. Sisanya dari fasilitas publik, sekolah, kantor, jalan, dan sebagainya. Kemudian, jika dipilah jenis sampah yang dihasilkan yaitu, sampah organik mencapai lebih dari 60 persen, kemudian sampah plastik sebesar 14 persen, kertas sebesar 9 persen, logam 4 persen, karet, kain, kaca dan lain-lain 13 persen.

Bagaimana pengelolaanya? Berdasarkan penelitian lembaga yang sama, sampah yang diangkut dan ditimbun di TPA sebesar 69 persen, dikubur sebesar 10 persen, dikompos dan daur ulang sebesar 7 persen, dibakar sebesar 5 persen, dan sisanya tidak terkelola sebesar 7 persen. Jadi, proporsi yang diolah dan di daur ulang masih sangatlah kecil.

Hal ini, sebangun dengan Survei Sosial dan Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) tentang perilaku dan persepsi memilah sampah yang menunjukkan, tiga per empat lebih rumah tangga di perdesaan dan perkotaan setuju pentingnya memilah sampah. Namun, meski persepsinya positif, tak menjamin dipraktikkan dalam keseharian. Hal ini dibuktikan dengan hanya 9,3 persen rumah tangga baik di perkotaan maupun di pedesaan yang rutin melakukan pemilihan sampah. Sebanyak 19 persen lainnya kadang-kadang, dan sisanya tidak pernah.

Dengan demikian, melihat fakta diatas, sebenarnya kitalah sumber persoalan sampah, sebab penghasil utama sampah adalah kita sendiri dan kita juga enggan untuk memilah apalagi mengolah sampah yang kita hasilkan. Oleh karena itu, solusi mujarab pengelolaan sampah perlu dimulai dari level terkecil, yaitu, diri kita sendiri kemudian meningkat pada level rumah tangga, RT, RW, Desa dan seterusnya.

Apa yang bisa kita lakukan?

Seperti yang sudah dicerminkan dalam survei BPS, sebenarnya kita sudah banyak mengerti apa yang harus kita lakukan dalam memberikan kontribusi untuk mengatasi persoalan sampah, yaitu PILAH dan OLAH SAMPAH.  Hal pertama yang harus dilakukan adalah memisah-misahkannya. Secara garis besar, ada dua jenis sampah rumah tangga: organik dan anorganik. Kenapa harus dipisah? Sebab, perlakuan atas jenis sampah tentu saja berbeda.

Pertama, sampah rumah tangga berbahan organik yaitu sampah berasal dari bahan makanan yang kita konsumsi, seperti kulit sayur dan buah, cangkang telur, tulang ikan, sisa makanan dan sebagainya. Satukan semua jenis sampah organik dalam tempat khusus untuk memudahkan pengangkutan. Akan sangat baik jika kita bisa berinisiatif mengolah sampah organik tersebut menjadi kompos.

Kedua, sampah rumah tangga berbahan anorganik. Nah ini, bisa dibagi-bagi menjadi beberapa kategori. Sebagian sampah anorganik bisa didaur ulang untuk mengurangi dampak negatifnya pada lingkungan. Bahan-bahan yang bisa didaur ulang meliputi kertas, kardus, botol kaca, botol plastik, kaleng, dan sebagainya. Ada juga sampah anorganik yang sudah didaur ulang atau berbahaya seperti baterai, wadah tinta printer, cairan kimia, dan bola lampu serta lainnya. Pisahkan masing-masing kategori sampah anorganik ini.

Pemisahan sampah ini akan memudahkan pengangkutan oleh petugas. Tentu saja langkah tersebut juga akan mempermudah untuk pengolahannya.

Kemudian, anda juga bisa melakukan beberapa perubahan kecil untuk mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan di rumah tangga. Misalnya, menggunakan tas kain untuk berbelanja, memprioritaskan membeli barang-barang berkualitas bagus agar tidak cepat rusak, dan menghindari membeli makanan yang dibungkus plastik dan styrofoam atau polystyrene.

Setelah kita mulai dari lingkup rumah tangga bisa dirembug untuk menjadi kesepakatan dan kesadaran kolektif di tingkat RT, RW, lingkup perumahan dan selanjutnya. Warga bisa membentuk bank sampah dan dikelola bersama-sama. Pemerintah mendukung dan memfasilitasi ini hingga sampai titik akhir pembuangan sampah. Sebab, jika kesadaran warga sudah terbangun namun kemudian tidak diteruskan sampai tempat pembuangan akhir juga akan percuma.

Jika menilik payung hukumnya, pemerintah sebenarnya sudah memiliki Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. PP itu mengatur dengan jelas segala hal mulai dari pemilahan sampah di tingkat terkecil, pengangkutan, pemisahan sampah yang bisa didaur ulang dan tidak, jumlah TPS per wilayah, hingga jadwal pengumpulan dan pengangkutan sampah. Masalah klasiknya, aturan selalu dibuat tapi tidak sepenuhnya dijalankan.

Jadi kesimpulannya, sampah ini merupakan masalah bersama dan harus diatasi bersama-sama. Tumbuhkan kesadaran warga untuk PILAH OLAH SAMPAH. Pemerintah memberikan payung hukum, jalankan dengan baik. Kemudian cukupi fasilitas, sarana dan prasarana serta sumber daya manusia dalam pengelolaan sampah sampai titik akhir. Jika itu semua bisa dilakukan, niscaya sampah tidak akan menjadi musibah, melainkan berkah.

(Ed: PI-7)