PurbalinggaNews, Layaknya remaja yang lain Muhammad Ishak Abdul Aziz setelah lulus dari bangku sekolah (SMA), Ishak merantau tahun 1999 mengadu nasib keberuntungan ke Jakarta. Sesampai di Jakarta impian untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan impiannya tidaklah seindah yang dibayangkan. Alhasil pekerjaan menjadi tukang batupun dilakoninya dengan penuh kepasrahan. “Yang penting pekerjaan itu halal dan untuk ngumpulin modal,”ujarnya saat Dinkominfo dan Para Awak Media bertandang ke rumahnya saat acara Safari Jurnalistik, Sabtu (18/11).

Di Jakartapun Ishak tidak lama, akhirnya hijrah ke Malang untuk menimba ilmu agama dengan masuk salah satu Pondok Pesantren di Malang. Di Pondok Pesantren tersebut Ishak menimba ilmu mengenai kemandirian berwiraswasta melalui berbagai jenis usaha.

Tahun 2000 akhirnya Ishak pulang ke kampung halamannya dukuh Ewong Desa Krangean, Kecamatan Kertanegara, berusaha membuka Krupuk dengan bahan baku ubi kayu (singkong). Awalnya hanya 10 kg singkong yang dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan krupuk yang diperoleh dari Kaligondang dan Kejobong. Berbekal semangat untuk memajukan desanya serta mengajak para pemuda agar tidak selalu mencari pekerjaan ke kota besar, maka Ishakpun mengajak warga desa Krangean untuk bekerja dengannya membuat krupuk singkong. Tenaga yang dipekerjakan untuk membuat krupuk singkong kurang lebih 50 orang.

Proses mulai pembuatan krupuk singkong diawali dengan mengupas singkong, kemudian singkong direndam selama 1 hari untuk mengeluarkan racun. Kemudian dipres dan dicampur dengan bumbu; bawang putih, garam, cempedak dan gula. Setelah dikasih bumbu kemudian dimasak dan dipipih serta terakhir dijemur. Untuk menjemurnya waktu yang dibutuhkan kurang lebi 3 jam agar krupuk menjadi kering. Kemudian setelah kering krupuk dipacking siap untuk dipasarkan ke para pembeli.

Krupuk singkong buatan Ishak tidak mengalami hambatan dalam pemasarannya, karena para pembelinya langsung datang ke rumahnya dengan memesannya, sehingga Ishak tinggal mengirim ke alamat para distributor. Krupuk yang dijual Ishak adalah krupuk mentah bukan krupuk goreng, karena dikhawatirkan kalau matang nantinya menjadi mlempem. “Cita rasa krupuk singkong buatan Saya serasa krupuk rasa kentang,” ujarnya sambil promosi dihadapan Para Awak Media.

Dalam satu bulan Ishak membutuhkan bahan baku 15 ton singkong perbulannya dengan harga Rp. 1.000/kg. Sedang omzet memproduksi krupuk singkong per bulannya  10 ribu bungkus dengan harga per bungkusnya Rp. 4.500,- satu bulan omzetnya bisa mencapai 45 juta. Krupuk singkong Ishak tanpa bahan pengawet, sehingga tidak berbahaya bagi kesehatan. Mau coba dan penasaran krupuk singkong sari kentang “Ewong” silahkan beli di toko maupun warung terdekat.   

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here