Sutaryo salah seorang pengusaha batik dari Desa Limbasari.

PurbalinggaNews – Motif batik Patrawisa dari Desa Limbasari Kecamatan Bobotsari lebih banyak diminati oleh masyarakat. Motif ini menggambarkan keindahan alam desa Limbasari dengan latar belakang pengunungan Patrawisa dan sungai Tungtung Gunungnya.

Menurut Sutaryo salah seorang pengusaha batik dari Desa Limbasari mengatakan motif batik Patrawisa lebih banyak diminati dikarenakan coraknya sangat bagus, yang menggambarkan panorama alam Desa Limbasari. “Kalau saya bikin motif patrawisa selalu habis. Selain patrawisa motif sawah layur dan udan liris juga banyak diminati pembeli,” tambahnya, Sabtu (15/7).

Sutaryo menceritakan sejarah munculnya batik di Limbasari berasal dari kehadiran Kyai Gandrung Wesi dari Kerajaan Mataram ke Limbasari. Kyai Gandrung Wesi mempunyai anak benama Siti Rumbiyah, dari Siti Rumbiyah batik mulai dikenal dan dikembangkan oleh penduduk Limbasari.

“Hampir sebagian besar perempuan Limbasari bisa membatik,” ujar Sutaryo yang juga pemilik merek batik Planasari.

Untuk penjualan lanjut Sutaryo masih di pasar lokal yakni untuk wilayah Purbalingga dan sekitarnya, dengan harga satu lembar antara Rp 300 ribu – Rp 500 ribu. “ Tergantung motifnya, semakin rumit motif batik maka semakin mahal harganya. Untuk satu lembar motif batik biasa diselesaikan antara 2 sampai 4 hari. Sedangkan untuk motif rumit bisa diselesaikan sampai 1 minggu,” katanya.

Sedangkan untuk biaya produksi Sutaryo mengatakan per lembar antara Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu, sedangkan untuk pewarnaan rata-rata satu lembar sekitar Rp 25 ribu. Untuk pewarnaan sekarang sudah bisa dilakukan oleh sendiri, tidak lagi ke Sokaraja. “Pewarnaan kita masih menggunakan bahan-bahan kimia, untuk bahan-bahan alami prosesnya lama,” tambahnya.

Jumlah produksi Batik Planbasari satu bulan antara 50 lembar sampai 60 lembar, dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 15 orang.

Terpisah, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Sidik Purwanto mengatakan pemerintah Purbalingga sangat konsen dengan pengembangan batik lokal Purbalingga. Salah satunya dengan mengencanangkan bela-beli Purbalingga yang diantaranya bela-beli Batik Purbalingga. Kita juga sudah melakukan berbagai pelatihan pemberdayaan para pengrajin Batik.

“Promosi batik Purbalingga juga sering kita lakukan dengan mengikuti berbagai kegiatan expo baik yang digelar secara nasional maupun regional. Pada 6-8 Juli 2018 kemarin kita juga mengikuti  Apkasi Otonomi Expo 2018 akan digelar di ICE BSD,Tangerang. Produk batik lokal Purbalingga kita pajang disana,” katanya (PI-2).